SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH?????????


Selamat Tahun Baru Hijriyah (?)
By: ah syahrul rahmat/xc MAN Lamongan


Beberapa orang teman mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah. Saya jadi terpekur, sudah muharram rupanya ! Tapi kenapa perasaan tidak seperti melewati tahun baru masehi yang gegap gempita ? Apakah muharram harus disambut dengan kegembiraan atau justru kesedihan ?

Tanda tanya di dalam judul tulisan di atas mencerminkan dua hal ketidakpahaman saya , yaitu apa makna tahun baru dalam Islam ? dan perlukah mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah ? Untuk menjawab kedua pertanyaan ini saya merasa perlu belajar sejarah Islam.

Ada satu pertanyaan mengganjal yang selalu saja muncul ketika muharram datang, apakah mengucapkan `Selamat Tahun Baru Hijriah` menjadi kebiasaan yang dijalankan Rasulullah dan sahabatnya dulu, sehingga kita pun harus mengikutinya sebagai sunnah ? Atau itu hanya kita ucapkan sebagai pengganti ketidakbolehan mengucapkan selamat tahun baru masehi, karena itu adalah kebiasaan non muslim ? (mohon maaf bagi rekan2 yang tidak sependapat).

Penetapan almanak dalam Islam dikatakan dimulai pada masa Rasulullah SAW, tetapi sebagian ulama juga mengatakan sejak masa Umar bin Khattab. Sebelumnya orang Arab menandai tahun barunya dengan adanya peristiwa hebat yang terjadi saat itu. Misalnya kelahiran Nabi SAW disebut tahun gajah, karena pada saat itu terjadi penyerbuan pasukan gajah Abrahah ke Ka`bah. Ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi, orang Makkah menggunakannya sebagai patokan perhitungan tahun baru. Kemudian tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau menggunakan patokan hijrahnya sebagai awal tahun dalam Islam. Lambat laun orang Arab pun menggunakan tahun hijrah sebagai dasar penanggalan mereka.

Rasulullah ketika menulis surat kepada kaum Nashrani Bani Najran, beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk menulis penanggalan dalam surat sebagai tahun ke 5 sesudah hijrah. Tetapi banyak buku sejarah yang menyatakan bahwa Umar bin Khattablah, pada tahun 638 M, yaitu 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah yang menetapkan kalender hijriah yang berdasarkan sistem lunar sebagai basic penanggalan Islam. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa seorang utusan khalifah berkunjung ke Yaman, dan mengatakan bahwa orang Yaman menuliskan tanggal dalam surat-suratnya, maka khalifah memerintahkan pembuatan penanggalan. Riwayat yang lain mengatakan bahwa seorang penguasa protes terhadap surat yang dikirim khalifah karena tidak jelas mana surat yang ditulis duluan mana yang belakangan, sebab tidak ada tanggal.

Sejak awal penanggalan bangsa Arab telah menggunakan sistem lunar, demikian pula kalender Islam. Hal ini berkaitan dengan beberapa ketentuan dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW, misalnya : penetapan awal dan akhir ramadhan, ibadah haji, iedul Adha, dll. Hadits Nabi tentang puasa :
`Berpuasalah ketika engkau melihat bulan (awal bulan ramadhan) dan berbukalah (jangan berpuasa) ketika engkau melihat bulan (awal bulan syawal)`
Juga tentang awal bulan, QS 11:189 , `Mereka bertanya kepadamu tentang bulan baru. Katakanlah bahwa dia adalah tanda waktu-waktu tertentu`.

Lalu pada bulan muharram apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam ?
Pencarian saya di internet membawa saya pada kesimpulan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak mengucapkan `Selamat Tahun Baru hijriah` (dalam bahasa Arab). Tidak seperti halnya iedul fithri yang dianjurkan untuk mengucapkan :
Aid mubaarak, aid saidun, kullu aamin wa antum bi khair. Taqabbalallaahu minna wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum.

Pada bulan Muharram, beliau justru memperbanyak ibadah, misalnya puasa Asyuro (pada tanggal 10 Muharram). Mengenai puasa ini terdapat silang pendapat apakah sunnah muakkad (ditekankan) atau ghairu muakkad (tidak ditekankan). Dalam salah satu hadits Bukhari Muslim disebutkan :
“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”.

Hadits lain menyebutkan : Dari Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).
Imam Hanifah menjadikan kedua dalil di atas untuk sampai pada kesimpulan bahwa puasa yang diwajiblan pertama kali bagi umat Islam adlaah puasa Asyura. Sedangkan Imam Syafii dan jumhur ulama yang lainnya berpendapat bahwa ramadhan lah puasa wajib pertama bagi umat Islam, berdasarkan dalil :
“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.”

Wallahu a`lam bi shshawaab


Adapun kata muharram berasal dari kata `harrama` yang mengalami perubahan bentuk menjadi yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun`. Bentukan`muharraman` berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan ? Perang atau pertumpahan darah ! Sebagaimana disebutkan Allah dalam QS . At Taubah : 36
` Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat 4 bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan`

Demikianlah, bulan muharram semestinya tidak dimaknai sebagai awal tahun baru saja, tapi perlu dipahami sebagai bulan yang penuh barokah sebagaimana bulan lainnya, bulan diharamkan melakukan peperangan, pertumpahan darah, bulan yang mengingatkan kita kepada perjalanan panjang hijrah Rasulullah SAW beserta 70 orang pengikutnya ke Medinah.

Wallahu `a`lam bishshawaab.

0 komentar:

Posting Komentar


Selamat Tahun Baru Hijriyah (?)
By: ah syahrul rahmat/xc MAN Lamongan


Beberapa orang teman mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah. Saya jadi terpekur, sudah muharram rupanya ! Tapi kenapa perasaan tidak seperti melewati tahun baru masehi yang gegap gempita ? Apakah muharram harus disambut dengan kegembiraan atau justru kesedihan ?

Tanda tanya di dalam judul tulisan di atas mencerminkan dua hal ketidakpahaman saya , yaitu apa makna tahun baru dalam Islam ? dan perlukah mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriah ? Untuk menjawab kedua pertanyaan ini saya merasa perlu belajar sejarah Islam.

Ada satu pertanyaan mengganjal yang selalu saja muncul ketika muharram datang, apakah mengucapkan `Selamat Tahun Baru Hijriah` menjadi kebiasaan yang dijalankan Rasulullah dan sahabatnya dulu, sehingga kita pun harus mengikutinya sebagai sunnah ? Atau itu hanya kita ucapkan sebagai pengganti ketidakbolehan mengucapkan selamat tahun baru masehi, karena itu adalah kebiasaan non muslim ? (mohon maaf bagi rekan2 yang tidak sependapat).

Penetapan almanak dalam Islam dikatakan dimulai pada masa Rasulullah SAW, tetapi sebagian ulama juga mengatakan sejak masa Umar bin Khattab. Sebelumnya orang Arab menandai tahun barunya dengan adanya peristiwa hebat yang terjadi saat itu. Misalnya kelahiran Nabi SAW disebut tahun gajah, karena pada saat itu terjadi penyerbuan pasukan gajah Abrahah ke Ka`bah. Ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi, orang Makkah menggunakannya sebagai patokan perhitungan tahun baru. Kemudian tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau menggunakan patokan hijrahnya sebagai awal tahun dalam Islam. Lambat laun orang Arab pun menggunakan tahun hijrah sebagai dasar penanggalan mereka.

Rasulullah ketika menulis surat kepada kaum Nashrani Bani Najran, beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk menulis penanggalan dalam surat sebagai tahun ke 5 sesudah hijrah. Tetapi banyak buku sejarah yang menyatakan bahwa Umar bin Khattablah, pada tahun 638 M, yaitu 6 tahun setelah wafatnya Rasulullah yang menetapkan kalender hijriah yang berdasarkan sistem lunar sebagai basic penanggalan Islam. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa seorang utusan khalifah berkunjung ke Yaman, dan mengatakan bahwa orang Yaman menuliskan tanggal dalam surat-suratnya, maka khalifah memerintahkan pembuatan penanggalan. Riwayat yang lain mengatakan bahwa seorang penguasa protes terhadap surat yang dikirim khalifah karena tidak jelas mana surat yang ditulis duluan mana yang belakangan, sebab tidak ada tanggal.

Sejak awal penanggalan bangsa Arab telah menggunakan sistem lunar, demikian pula kalender Islam. Hal ini berkaitan dengan beberapa ketentuan dalam Al-Quran dan hadits Nabi SAW, misalnya : penetapan awal dan akhir ramadhan, ibadah haji, iedul Adha, dll. Hadits Nabi tentang puasa :
`Berpuasalah ketika engkau melihat bulan (awal bulan ramadhan) dan berbukalah (jangan berpuasa) ketika engkau melihat bulan (awal bulan syawal)`
Juga tentang awal bulan, QS 11:189 , `Mereka bertanya kepadamu tentang bulan baru. Katakanlah bahwa dia adalah tanda waktu-waktu tertentu`.

Lalu pada bulan muharram apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam ?
Pencarian saya di internet membawa saya pada kesimpulan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat tidak mengucapkan `Selamat Tahun Baru hijriah` (dalam bahasa Arab). Tidak seperti halnya iedul fithri yang dianjurkan untuk mengucapkan :
Aid mubaarak, aid saidun, kullu aamin wa antum bi khair. Taqabbalallaahu minna wa minkum shiyaamana wa shiyaamakum.

Pada bulan Muharram, beliau justru memperbanyak ibadah, misalnya puasa Asyuro (pada tanggal 10 Muharram). Mengenai puasa ini terdapat silang pendapat apakah sunnah muakkad (ditekankan) atau ghairu muakkad (tidak ditekankan). Dalam salah satu hadits Bukhari Muslim disebutkan :
“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”.

Hadits lain menyebutkan : Dari Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).
Imam Hanifah menjadikan kedua dalil di atas untuk sampai pada kesimpulan bahwa puasa yang diwajiblan pertama kali bagi umat Islam adlaah puasa Asyura. Sedangkan Imam Syafii dan jumhur ulama yang lainnya berpendapat bahwa ramadhan lah puasa wajib pertama bagi umat Islam, berdasarkan dalil :
“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.”

Wallahu a`lam bi shshawaab


Adapun kata muharram berasal dari kata `harrama` yang mengalami perubahan bentuk menjadi yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun`. Bentukan`muharraman` berarti yang diharamkan. Apa yang diharamkan ? Perang atau pertumpahan darah ! Sebagaimana disebutkan Allah dalam QS . At Taubah : 36
` Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada 12 bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat 4 bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan`

Demikianlah, bulan muharram semestinya tidak dimaknai sebagai awal tahun baru saja, tapi perlu dipahami sebagai bulan yang penuh barokah sebagaimana bulan lainnya, bulan diharamkan melakukan peperangan, pertumpahan darah, bulan yang mengingatkan kita kepada perjalanan panjang hijrah Rasulullah SAW beserta 70 orang pengikutnya ke Medinah.

Wallahu `a`lam bishshawaab.